Prospek Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

Main Article Content

Maria Alfonsa Ngaku

Abstract

Peluang untuk mengembangkan bisnis sapi potong merupakan sebuah pintu terbuka yang dapat memberikan keuntungan tambahan bagi para pelaku bisnis. Eksplorasi ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan terciptanya budidaya sapi pedaging di Kabupaten Kupang, Wilayah Nusa Tenggara Timur. Strategi yang digunakan dalam eksplorasi ini adalah pendekatan kepustakaan. Oleh karena itu, Kabupaten Kupang menjadi salah satu daerah peternakan sapi potong terpenting di Provinsi Tenggara Timur. Populasi sapi potong di Kabupaten Kupang meningkat sebanyak 320.030 ekor antara tahun 2020 hingga 2022, sebagaimana dilaporkan BPS pada tahun 2020. kepala. Hal ini didukung oleh wilayah pertanahan dan tugas otoritas publik. Potensi pakan untuk sapi pedaging dikalahkan oleh pakan yang berbahan dasar serat/bahan sisa. Sapi Bali dan SO merupakan varietas sapi potong yang dikembangkan di Kabupaten Kupang.

Article Details

How to Cite
Ngaku, M. A. (2023). Prospek Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur . urnal ains eternakan, 11(2), 111–117. https://doi.org/10.21067/jsp.v11i2.9300
Section
Articles

References

Ahmad, S.N., D.D. Siswansyah, & O.K.S. Swastika. (2004). Kajian sistem usaha ternak sapi potong di Kalimantan Tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 7(2), 155-170.

Ayuni, N. (2005). Tata Laksana Pemeliharaan dan Pengembangan Ternak Sapi Potong Berdasarkan Sumber Daya Lahan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Badan Standar Nasional (n.d.). SNI 7356:2008 Bibit sapi peranakan Ongole (PO). Jakarta.

Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. (2019). Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2019. Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Jakarta.

Diwyanto, K. (2008). Pemanfaatan sumberdaya lokal dan inovasi teknologi dalam mendukung pengembangan sapi potong di Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(3), 173-188.

Ditjen PKH. (2012). Dukungan Pemerintah dalam Pengembangan Integrasi Sawit-Sapi. Makalah disampaikan pada Rountable Discussion (RTD) 8 Juni 2012. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Ferdiman, B. (2007). Strategi Pengembangan Usaha Penggemukan Sapi Potong PT Kariyana Gita Utama Sukabumi. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

Gordeyase, I.K.M., R. Hartanto, & W.D. Pratiwi. (2006). Proyeksi daya dukung pakan limbah tanaman pangan untuk ternak ruminansia di Jawa Tengah. J. Indon. Trop. Anim. Agric. 32(4), 285-292.

Hadi, P.U. & N. Ilham. (2002). Problem dan prospek pengembangan usaha pembibitan sapi potong di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 21(4), 148-1

Inounu, I., E. Martindah, R.A. Saptati, & A. Priyanti. (2007). Potensi ekosistem pulau-pulau kecil dan terluar untuk pengembangan sapi potong. Wartazoa 7(4), 156-164.

Isbandi. (2004). Pembinaan kelompok petaniternak dalam usaha ternak sapi potong. J. lndon. Trop. Anim. Agric. 29(2),106-14.

Kariyasa, K. (2005). Sistem Integrasi Tanamanternak dalam Perspektif Reorientasi Kebijakan Subsidi Pupuk dan Peningkatan Pendapatan Petani. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian 3(1), 68-80.

Luthan, F. (2009). Implementasi program integrasi sapi dengan tanaman : padi, sawit dan kakao di Indonesia. Prosiding Workshop Nasional Dinamika dan Keragaan Sistem Integrasi Ternak-Tanaman : Padi, Sawit, Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.

Mersyah, R. (2005). Desain Sistem Budi Daya Sapi Potong Berkelanjutan Untuk Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan. Disertasi, IPB. Bogor.

Populasi Sapi Potong Menurut Provinsi (Ekor), 2021-2022 (n.d.). Diakses 13 Oktober 2023. Dari website Badan Pusat Statistik: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDY5IzI=/populasi-sapi-potong-menurut-provinsi.html

Populasi Ternak Besar Menurut Kabupaten/Kota 2017-2019. (n.d.). Diakses 13 Oktober 2023. Dari website Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur: https://ntt.bps.go.id/indicator/24/590/2/populasi-ternak-besar-menurut-kabupaten-kota.html

Roessali, W., B.T. Eddy, & A. Murthado. (2005). Upaya Pengembangan Usaha Sapi Potong melalui Entinitas Agribisnis “Corporate Farming†di Kabupaten Grobogan. Jurnal Sosial Ekonomi Peternakan 1(1), 25−30.

Rosida, I. (2006). Analisis Potensi Sumber Daya Peternakan Kabupaten Tasikmalaya sebagai Wilayah Pengembangan Sapi Potong. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Sudkada, I K., I W. Subrata, & I G. Suarta. (2016). Potensi Ternak Sapi Potong, Sapi Perah dan Kerbau Sebagai Penghasil Daging di Kabupaten Nusa Tenggara Timur. Majalah Ilmiah Peternakan 19(3), 101-104.

Syamsu, A.J., L.A. Sofyan, K. Mudikdjo, & G. Said. (2003). Daya Dukung Limbah Pertanian sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia di Indonesia. Wartazoa 13(1), 30−37.

Sugeng, Y.B. (2006). Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Talib, C. (2001). Pengembangan Sistem Perbibitan Sapi Potong Nasional. Wartazoa 11(1), 10− 19.

Utomo, B.N. & E. Widjaja. (2004). Limbah Padat Pengolahan Sawit sebagai Sumber Nutrisi Ternak Ruminansia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 23(1), 21−28.

Wijono, D.B., Maryono, & P.W. Prihandini. (2004). Pengaruh Stratifikasi Fenotipe Terhadap Laju Pertumbuhan Sapi Potong pada Kondisi Foundation Stock. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.