Abstract
Artikel ini membahas saling keterkaitan antara merebaknya kekuasaan yang terpusat pada sekelompok kecil elit (oligarchy) dan munculnya kebencian sosial budaya terselubung (socio-cultural animosity pada masyarakat Indonesia pasca reformasi. Argumentasinya adalah bahwa persoalannya terletak pada kurangnya mengembangkan kesepakatan nilai secara alamiah dan partisipatif yang lebih mengandalkan pendekatan kekuasaan. Dalam situasi seperti itu Indonesia perlu menyiptakan civic culture sebagai kesepakatan budaya untuk membangun kerukunan antarkelompok masyarakat dan salah satu medianya yang paling potensial adalah melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Jurnal Moral Kemasyarakatan permits readers to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full text of its published articles and to use them for any other lawful purpose. The journal retains copyright of all published articles. Upon publication, copyright is transferred from the author(s) to the journal publisher.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License .
